Banyak orang yang mengaitkan ketekunan pada kegiatan belajar serta kerja keras. Ya, sepertinya saya menyetujui hal tersebut. Keberhasilah seseorangmemperoleh sesuatu memang sangat ditentukan melalui proes pembelajaran diri dan kerja keras dilandasi ketekunan melakoninya. Karena ketekunan akan menempa dan memacu diri untuk berprestasi.
Dari kehidupan saya sendiri, saya merasa ketekunan ini memang penting dalam memperoleh suatu hal. Mungkin hal yang paling sering dialami adalah dalam proses belajar dalam perkuliahan maupun secara mandiri. Keduanya (kuliah dan mandiri) memiliki tantangan yang sangat menguji ketekunan. Seperti yang terjadi pada dua semester lalu, ketekunan belajar saya dengan adanya internet di kosan sendiri. Ditambah lagi zaman facebook sedang booming-boomingnya. Jadilah hampir setiap waktu luang saya, saya gunakan untuk berinternetria, sementara rencana belajar yang sudah saya janjikan pada diri sendiri terlupakan. Hingga pada akhirnya telah larut malam, saya pun mengantuk dan tidak jadi belajar. Hal ini berjalan hingga beberapa bulan, padahal sebelum-sebelumnya saya selalu menyempatkan diri untuk belajar setiap harinya. Sebenarnya gangguan tersebut tidak mutlak dari internet itu saja, tetapi lebih dari diri saya yang mencobai diri sendiri, maksudnya seperti ini, sering kali begitu melihat laptop, saya berkata pada diri sendiri, “Ya udahlah, refreshing ngenet sebentar saja tidak masalah, sepertinya 30 menit cukup.” Namun pada akhirnya, 30 menit ini berubah menjadi berjam jam :P. Yang paling parah adalah ketika sedang belajar buat UTS saya belajar dengan internet di depan mata. Seperti yang bisa diduga, saya jadi lebih sering klik sana sini daripada memasukkan materi UTS ke otak.
Selain internet, hal-hal yang kurang jadi prioritas juga mengganggu ketekunan dalam belajar. Seperti misalnya, membereskan pakaian di lemari atau membereskan kamar yang sebenarnya ingin dilakukan sebentar malah menjadi berjam-jam lamanya bisa juga berupa ajakan teman untuk pergi ke suatu tempat. Selain itu, adanya masalah yang sedang terjadi dalam kehidupan juga membuat kefokusan dan ketekunan akan sesuatu menjadi rusak. Terlebih saya orang yang kurang bisa membagi pikiran secara sekaligus. Sehingga akan sulit bertekun belajar sementara perasaan hati dan pikiran sedang tidak enak.
Hingga pada akhirnya setelah zaman UTS, saya memutuskan bertobat (terdengar ekstrem memang). Karena hasil dari UTS yang diperoleh sungguh mengecewakan. Saya sih memandangnya sebagai bentuk peneguran oleh Tuhan, oleh karena itu saya mau berubah. Mulai saat itu saya belajar konsisen dengan apa yang telah saya tetapkan dari awal (seperti: rencana belajar pada diri sendiri) dan tidak coba-coba mencobai diri (yang biasanya berujung masuknya saya pada pencobaan yang saya buat tersebut :P). Sehingga saya mulai dapat menepis keinnginan untuk internet berlama-lama di hari-hari kuliah, juga mulai memilah-milah ajakan teman. Pokoknya pada saat itu hanya satu yang saya inginkan yaitu perbaikan nilai-nilai UTS yang buruk. Hasil yang saya peroleh dari ketekunan itu yaaa lumayanlah, walau IP turun, tapi saya sempat memperbaiki semuanya. Saya juga belajar kekuatan ketekunan yang sangat luat biasa itu. Ketekunan memang merupakan sebuah proses. Dalam hal ini, seseorang memproses dirinya sendiri, dengan cara melatih serta menempa dirinya untuk menjalani suatu rutinitas tertentu secara berkesinambungan. Atau dengan kata lainnya adalah konsisten dalam melakukan suatu hal. Saya juga jadi mengerti bahwa seseorang yang berusaha menggapai sesuatu dengan ketekunan berarti seseorang itu tahu dan menyadari kalau keberhasilah hanya bisa dicapai dengan suatu proses dan pembelajaran ekstra.
Seperti ada tertulis dalam Ibrani 10:36
“Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar